Rabu, 27 Juni 2012

Minggu Reporter Hari Biasa Kungyan



Anita Sri Rahayu


Hari biasa, Hong Kong;
“Assalamu’alaikum… Mbak A ya? Ketua organisasi ABC? Maaf mengganggu, saya Anita Reporter DDHK News, mau bikin laporan kegiatan organisasi ABC, boleh Mbak? Baik, terima kasih Mbak ya, waktu dan informasinya.”

Itulah deretan pertanyaan yang sering aku ajukan pada narasumber via telepon. Bukan di kantor, tapi di jalan arah pulang dari pasar. Terseok-seok, mengejar bus, dan menahan beratnya tas belanjaan berwarna kuning cerah.

Untung tidak ada yang tahu, kalau aku wawancarai mereka dengan penampilan khas “kungyan” ini. Meskipun sering dipandang aneh oleh rekan sejawat, saat di bus, kenapa cara bicaraku formal. Jelas. Kan harus sopan sama narasumber berita?

Ah, terserah pandangan orang. Yang penting niatku itu baik. Bukan salah mereka, karena tidak tahu aku reporter juga, bukan? Kecuali jika libur, aku biasa kalungkan kartu pers di leher. Tapi tidak saat ke pasar, oh, apa kata dunia?

Tugas harianku, jika waktu anak yang aku asuh sekolah, selalu ke rumah nenek di daerah Sui Wo Yuen, tetap memanfaat kan waktu senggang untuk menulis berita kegiatan BMI Hong Kong.

Tapi hari itu, sang narasumber sibuk mungkin, hingga tidak mengangkat teleponku saat masih di bus. Dia menghubungiku tepat ketika aku tiba di depan rumah nenek.

”Assalamu’aliakuuuum!” ujarku dengan lantang, pintu terbuka.

Ops! Kupandang wajah nenek dengan matanya yang menyorotku terheran-heran.
”Cosan, Popo,” sapaku, wajahku pastinya tak kalah bingung, harus menyapa yang di line telepon atau nenek.

“Aduh, Mbak Nita, masa saya dipanggil Popo?” ujar sang narasumber.
Nah, kan jadi ketuker! Nenek bingung, aku bingung, narasumber juga lebih bingung!

Ustadz bilang, “Kita harus selalu melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain.” Sama dengan niatanku saat bergabung menjadi reporter. Saat kita menulis hal yang baik dan berguna, maka itu akan menjadi amal baik bagi kita.

“Kelak saat mulut tak bisa lagi bicara, di depan pengadilan Tuhan, pena biru dan buku kecil, kamera dan komputermu yang layarnya sudah pecah ini akan memeberikan kesaksian membela dirimu,” gumamku sendiri.

Hal itu pula yang selalu memberikan energi tersendiri, saat kawan masih tertidur pulas, melakukan hal menyenangkan lainnya, aku sudah berada di lokasi kegiatan teman BMI untuk meliput.

Dari kacamata manusia mungkin itu tindakan yang sia-sia, apalagi kadang mentalku jeblok. Bayangkan saja, sudah berkorban istirahat, berusaha profesional, membagi waktu kerja dan meliput, tapi hasilnya kadang dikomplen orang.

Sedih sekali rasanya, tapi rasa sedih itu tergantikan saat aku tahu, Tuhan selalu punya buku catatan bagi setiap tindakan. Jika ingin terlihat baik di mata orang itu akan capek, tapi baik di mata Tuhan, cukup berusaha semaksimal mungkin. Cukup Allah saja pelindungku dan yang akan memberikan imbalan sebaik-baiknya.

Hari itu ada pengajian di daerah Sheung Wan, sangat jauh dari tempatku kerja. Baru ada dua orang relawan reporter waktu itu, aku dan Tati. Menyusul Mbak Lutfiana dan Rima.

Tugasku meliput di pengajian Tsim Sha Tsui yang letaknya jauh di daratan Kowloon-side. Kerangka laporan sudah aku buat, sehingga saat tiba di lokasi tinggal dokumentasi foto dan wawancara.

Sebetulnya aku lebih senang jika bisa menyimak materi dari penceramah, tapi karena butuh waktu menuju tempat berikutnya, aku harus bisa membagi waktu. Akhirnya, hanya bisa mendapat keterangan dari ketua panitia, karena hingga Zuhur tiba, tausiyah inti belum juga dimulai, aku pamit menju Tsim Sha Tsui.

Bahan laporanku cantik walau bingung dengan isi berita nantinya apa, tapi aku pegang prinsip reportase, yaitu harus jujur.

Aku tidur dengan Heyan, dan peraturan si bos tidak bisa ditawar, jika waktu tidur sudah tiba harus matikan lampu. Aku sadar tugasku untuk menjaga Heyan lebih utama ketimbang tugas edit berita, tapi  inilah yang terjadi: “Maju tak gentar meski tak dibayar.”

Aku tetap mematuhi peraturan bosku. Siang hari susah punya waktu banyak, edit berita butuh konsentrasi, terpaku pada hasil reportase.

Di kamar penuh boneka milik Heyan, aku duduk di kasur lipat tepat di bawah ranjang anak kecil itu.

“Cece, kenapa kamu belum tidur? Nanti papa marah, ayo tidur!” ajaknya .
“Kamu tidur dulu ya, Cece ada kungfo, pe-er, kalau tidak dikerjakan nanti guru Cece marah.”

Padahal editorku tidak pernah marah, aku bohong nih ceritanya, sambil menyalakan laptop yang layarnya pecah dan kini mulai bergaris hitam.

Heyan sudah terbuai dengan mimpinya, sementara aku sibuk menulis, menyalin rangkuman dari buku kecilku. Susunan kerangka laporan aku kembangkan jadi berita sempurna, dengan cahaya sinar laptop saja.

Halangan bukan alasan untuk tidak melakukan hal bagi orang lain, walau itu baru bisa aku lakukan dalam skala kecil saat ini. Ah, pahit memang mataku perih menahan cucuran air mata. Seakan terbangun dari mimpi-mimpi, di mana aku?

Apa yang sedang aku lakukan? Adakah itu bernilai di mata Tuhan? Aku hapus air mataku sebelum mengaliri pipi, cukup hatiku saja yang basah. Namun, jemariku tetap bergerak menulis garis-garis kemurahan Tuhan dalam segala keterbatasanku.

Di alinea terakhir laporan aku tulis: Acara berlanjut dengan salat Zuhur berjamaah, lalu masuk ke sesi kedua, yaitu acara inti taklim dan zikir yang disampaikan oleh KH Mustofa.

“Mbak ini yang suka jemput anak di Sui Wo Yuen, kan? Wartawan toh?” ujar panitia sebuah organisasi di Sha Tin.

Pertanyaan itu ia lontarkan penuh rasa heran, setelah aku bisa “pede” berbincang dengan Ustad yang akan mengisi acara. Bukan “pede” tanpa sebab, semata hanya menjalankan tugasku.

“Iya, ini judulnya, kalau Minggu saya Reporter Mbak, tapi hari biasa saya ini kungyan,” jawabku penuh canda.

Bukan tidak profesional, tapi karena keterbatasan waktu saja. Semoga jika jadi jurnalis sungguhan, pengalaman ini jadi bekal tersendiri bagiku, saat sulit yang penuh makna.

Tetap saja, untuk saat ini aku adalah BMI, tapi aku aku merasa banyak ilmu kehidupan yang bisa aku dapat, dan tak bisa didapat dari universitas mana pun.

Toleransi, kepekaan sosial, akhlak, tahan ujian, dan bercermin diri dari rasa mengeluh menjadi syukur pada kehendak Tuhan. Semoga lulusan kampus juga memiliki hal yang sama, sehingga bisa melahirkan aktivis dan petinggi negara yang berahlak mulia, bukan modal gelar semata. (Anita Sri Rahayu/ddhongkong.org)

Senin, 25 Juni 2012

Rumah Perempuan: Rumah Purna BMI Hong Kong


Mimpi Ini: Rumah Lansia Wahdatul Mar’ah



Hong Kong, 3 Juni 2012
Hampir sebulan sudah aku berada di negeri beton, diselang ke China dan kembali ke sarangku di kawasan Causeway Bay. Sejak masih di Jakarta, undangan sekadar lesehan untuk sharing kepenulisan telah berdatangan. 

Namun, pekan pertama aku justru tepar terkena flu berat, nyaris tidak bisa berbuat apapun kecuali rehat dan menormalisasi kondisi tubuhku yang memang semakin ringkih.
Setelah berobat dan mengkonsumsi herba China, pada pekan kedua barulah bisa bangkit kembali, dan langsung mengisi di holaqoh-holaqoh yang bermarkas di Masjid Ammar Wanchai.

Di sini pulalah jumpa dengan Mimi Jamilah Mahya, salah seorang pembina holaqoh, lulusan universitas ternama di negeri jiran. Persahabatan kami berdua langsung tercipta, lebih disebabkan merasa satu visi dan misi untuk membuat program pemberdayaan BMI HK purna.

Hari-hari kemudian, baik melalui meeting secara langsung maupun via telepon dan SMS, kami berdua bagaikan sejoli bermimpi; menguyek-uyek program yang ingin segera kami wujudkan dalam bentuk nyata.

Rumah perempuan, MW, Mahdatul Mar’ah, sebuah tempat penampungan bagi para BMI purna, bukan saja berasal dari Hong Kong melainkan juga dari negeri lainnya seperti; Malaysia, Singapura, Macau, Taiwan dan Arab Saudi.

Dari beberapa kunjungan ke Malaysia, Singapura dan Hong Kong, saya kerap menemukan sosok-sosok perempuan tangguh yang sudah tidak muda lagi. Di kelas menjahit di Singapura, saya bertemu dengan Maryam, perempuan 60 tahun.

“Masih betah tinggal di negeri Singa nih, Mbak?” tanyaku, setelah mencermati caranya memberi pelajaran menjahit kepada anak-anak BMI.

Ia bercerita sekilas tentang lakon hidupnya. Sejak umur 16 tahun telah meninggalkan kampung halaman, merantau menjadi TKI di berbagai negara.

Awalnya di Malaysia, lanjut ke Arab Saudi, Kuwait, Hong Kong, dan enam tahun terakhir di Singapura. Tiga anaknya telah dewasa dan mandiri, bahkan telah memberinya selusin cucu. Suami telah lama (menurut istilahnya) disedekahkan kepada perempuan lain.

“Bukannya betah, Teteh. Tentu saja saya mau pulang, mau banget, tapi tidak tahu harus pulang ke mana,” kesahnya terdengar pilu.

Ternyata tiga anaknya menolak keinginannya untuk pulang ke rumah mereka. Alasannya sungguh miris:”Yah, dulu waktu kami kecil, Emak juga tak pernah mengurus kami!”

Ya Allah, jeritku ikut pedih rasanya. Betapa ingin kutawarkan kepadanya, tinggal sajalah bersama saya di rumah mewahku di kampung Cikumpa. Namun, kemudian saya pikirkan kembali; di rumah saya tidak sendiri, ada anak dan mantu, lagipula belum tentu Maryam bersedia.

“Kalau ada rumah penampungan untuk perempuan lansia, bersediakah tinggal bersama saya?” tanyaku ketika akan berpisah. Seketika dia memelukku erat sekali, terasa airmatanya membasahi jilbabku.

Rumah yang ingin kami bangun di lahan bekas reruntuhan rumahku di Cimahi itu, kubayangkan berupa tempat para perempuan lansia, single parent, mereka yang sedang taubatan nasuha, sementara di bagian atas untuk anak-anak yatim penghafal Al Quran.
Kami baru bermimpi, Saudaraku!

Namun, tidak ada salahnya jika berjuang untuk mewujudkannya: Dream, Pray and Action!
Mohon dukungan dari Anda semua dan semoga akan banyak orang yang tergerak hati untuk menyemangati, menyumbang donasinya untuk: Rumah Lansia Wahdatul Mar’ah ini. Bissmillahi tawakaltu lahaola wala quwwata ilabilahi aliyul adzim. (Causeway Bay-Hong Kong)



Catatan:
Pembangunannya akan dimulai (DL) awal Ramadhan.
Sudah mengontak beberapa instansi. Belum ada reapon positif.
Kepada saudara-saudariku yang berkenan bantu, silakan, jangan tunda-tunda lagi.
Sisihkan sebagian harta Anda, bisa ditransfer melalui: Bank Syariah Mandiri  6034 9403 9716 1005

BCA: 7650311811

Rabu, 09 Februari 2011

Inilah Cerpen Butet Ketika SMA Kelas 1 (14 Tahun)



 Sang Pewaris
Adzimattinur Siregar


Lelaki itu berlumur nista!
Dia berada di sekitar bundaran pasar. Ia berkulit hitam. Namun, hitam kulitnya pun sanggup dikalahkan oleh hitam dosa yang melumuri hati dan pikirannya. Aku yakinkan itu. Sosoknya sungguh iblis berwujud manusia, Saudara!
Aku bisa melihat tanduknya sejelas mataku memandang kemiskinan di sekitar kami. Matanya yang selalu merah, aku yakin di dalamnya berjejalan pemandangan neraka.
Kini ia bergerak mendekatiku. Wajah garangnya jelas memperlihatkan kemarahan,  tapi aku hanya menyambutnya dengan senyuman datar.
“Mana makanannya?” bentaknya tepat di depan hidungku.
Aku tidak mengerti itu pertanyaan atau pernyataan. Jadi aku hanya diam, menatap lurus ke depan dengan rasa lapar yang semakin sering melilit-lilit hebat di perutku.
“Jawab!”
Plaak! Guncangan rasa sakit menerpa kepalaku sesaat, dan puntung di tanganku pun loncat. Aku bergeming, hanya menatapnya dari tempat dudukku dengan mata menyipit.
“Makanan dari mana? Kita tak punya duit lagi buat beli beras. Ludes dipake judi!” cetusku pedas. Plaak! Lagi, pipiku memanas.
“Berani-beraninya ngomong seperti itu kepada orang tua! Dasar anak durhaka!”  
Aku dapat merasakan cipratan ludahnya di wajahku. Menjijikkan! Membuatku ingin cepat-cepat pergi dan mencuci wajahku bersih-bersih.
“Sudahlah, Pak. Saya akan ke warung, cari utangan.” Suara ibuku terdengar pasrah dari dalam rumah.
“Memang sudah seharusnya itu! Jadi istri saja tidak becus!” dengusnya geram.
Lelaki iblis itu membanting pintu dan bergegas ke dalam rumah. Aku menyipitkan mata semakin muak dan jijik. Ibuku tidak bertanggung jawab? Kalau ibuku tidak bekerja membanting tulang sebagai pembantu di perumahan depan sana, kami niscaya sudah jadi gembel. Aku menggeleng tidak mengerti bagaimana ibuku dapat bertahan dalam keadaan seperti ini. Betapa sering aku melihat perempuan malang itu bercucuran air mata, pipi-pipinya membiru legam, bahkan tiga gigi depannya sudah lama berloncatan. Semua akibat kekejian lelaki itu, terutama saat-saat dia kalah berjudi.
“Mengapa Ibu tetap bertahan jadi istri lelaki kejam itu?” tanyaku suatu hari.
“Ibu cinta bapakmu, Nak,” jawabnya sambil tertunduk.
Persetan dengan cinta. Tak ada cinta di mata lelaki setan itu kala ia menghajar perut ibuku. Tak ada cinta di hatinya ketika dengan tega ia melemparkan piring, gelas dan barang pecah belah lainnya ke kepala ibuku. Cuma orang tolol yang rela disakiti karena cinta.
Suatu kali saat ibuku tak ada di rumah. Lelaki itu menghampiriku yang sedang asyik merancang khayal, bagaimana menjadi seorang Cinderella.
“Sini kau, ikut aku!” Lelaki itu menyeretku ke suatu tempat yang kukenal sebagai lapak judi. Tempatnya biasa menghabiskan uang yang diperoleh ibuku dengan cucuran keringat dan air matanya.
“Hei, Togar! Masih berani pula kau datang? Sudah kalah telak kemarin kau!” Seorang preman pasar mendorong bahu lelaki bertanduk iblis itu.
Aku mengernyit, kulihat tumpukan daster dan kain batik milik ibuku ada di atas lapak yang dikelilingi empat orang lelaki.
“Kau tidak punya apa-apa lagi! Bahkan baju-baju bini kau pun dijadikan taruhan! Hahaha!” Seseorang tertawa di pojok ruangan. Lelaki itu menatap mataku seakan meminta maaf. Aku memalingkan wajah mual. Firasat ini, huuuh!
“Masih ada anak ini! Satu juta sajalah!” dengusnya tanpa sembala.
Aku tercengang menatap lelaki itu. apakah dia bercanda? Anaknya sendiri hendak dijual?”
“Lima ratus ribu!” teriak lelaki bertampang sangar itu sambil terkekeh.
“Kecil-kecil begini masih perawan dia! Tujuh ratus limapuluh ribu sajalah.”
         Untuk sesaat lelaki itu menatapku dari atas sampai bawah. Menelanjangiku dengan matanya yang jelalatan. Aku dapat melihat kilatan nafsu di sana.
           “Baiklah! Cepatlah kau main! Tak sabar lagi kepingin kucoba juga dia!”
           Aku tertegun diam. Terlalu terkejut  untuk berontak. Tujuh ratus lima puluh ribu. Hargaku hanya tujuh ratus lima puluh ribu rupiah? Ini pasti mimpi. Lelaki itu pasti cuma bercanda. Ya, Tuhan! Katakan ini cuma mimpi!
Aku tenggelam dalam lautan aneh tak teperi. Hingga sebuah teriakan puas membahana, menarikku kembali ke dalam realita. Dalam sepersekian detik, aku berharap. Dan sepersekian detik berikutnya, aku terjatuh bahkan terpuruk. Ketika kulihat kepala lelaki pengecut itu menunduk, terkulai pasrah layaknya pecundang.
Aku berontak. Sibuk menggoreskan cakarku ke lengan lelaki yang kini merasa memiliki diriku. Aku terus menggigitnya, meludahinya dan kulakukan semuanya diiringi kristal-kristal yang terus bergulir dari mataku. Tetes demi tetesnya jatuh dan aku bersumpah; takkan tenang hidupku hingga napas lelaki iblis itu terputus!
“Anak setan! Aku cuma mau pakai kau sekali saja, bah!” bentaknya sambil terus menarikku untuk masuk ke sebuah motel murahan.
“Tolong! Tolong!” Aku berteriak sesaat sebelum dia membekap mulutku dengan tinjunya.
“Diam!” sergahnya sengit.
“Kelihatannya dia tak mau diajak masuk, Bos!” tiba-tiba sesosok pria tinggi menghadang jalanku. Dari balik air mata, aku dapat melihat jas rapinya yang kontras dengan suasana motel murahan itu.
“Jangan ikut campur! Bapaknya sendiri sudah menjualnya!” lelaki jahanam itu mendorong bahu pria berjas agar menjauh.
“Memangnya harganya berapa?” tanyanya ramah.
Lelaki itu diam sejenak sebelum kemudian mendengus, “Kenapa? Kau mau beli anak kampungan ini?”
“Kalau harganya sesuai.”
“Sepuluh juta bagaimana?”
Aku melihat kilatan kaget di mata pria berjas itu. mungkin aku terlalu mahal untuknya? Oh, tidak! Dia menyodorkan segepok lembaran ratusan ribu dari balik jasnya. Kulihat mata lelaki itu berkilat hijau.
“Ambil nih anak kecil!”
Pria berjas itu berusia 30-an, demikian taksiranku. Dengan hidung lancip dan mata yang tajam, pria ini sebenarnya sangat indah. Dia kemudian memboyongku ke suatu tempat yang dikatakannya sebagai kamar nirwana. Suasananya sungguh nyaman. Seumur hidupku, sampai lima belas begini, inilah untuk pertama kalinya aku menginjak sebuah hotel bebrintang.
“Jadi, kamu dijual oleh bapakmu sendiri?” tanyanya sambil menyodorkan segelas air ke arahku.
“Iya, sebagai pembayar taruhan,” sahutku membenarkan.
Pria itu tertawa sambil menggeleng, membuat sepasang matanya terlihat kian berkilau dan bercahaya. Kurasa api yang ada di perapian membuat bayangannya terlihat memesona.
“Dunia ini gila!” katanya di sela-sela tawa.
Aku hanya diam dan terpana. Betapa indahnya pria ini, takkan kulihat lagi yang seperti ini, pikirku.
“Ada apa?” Dia bertanya saat melihat mulutku yang terbuka sambil memandanginya.
“Ah, tidak apa-apa!” gumamku tertunduk tersipu. “Aku mau tahu kenapa kamu beli aku?” tanyaku terburu-buru menutup rasa malu.
Aku bisa merasakan pria itu tersenyum ke arahku. Perlahan, ia mengangkat wajahku. Samar-samar, tercium wangi parfum dari balik jasnya saat ia menyentuh pipiku.
“Karena kamu cantik,” sahutnya.
Untuk sedetik aku terkesima. Betapa sempurnanya ciptaan-Nya ini. Namun sedetik kemudian aku tersadar saat ia mulai menyentuh tubuhku yang lain.
“Jangan!” pekikku takut.
Dia menghujamkan senyum mautnya ke arahku sambil berbisik perlahan, “Kenapa? Kamu kan sudah aku beli.”
Aku menutup mataku rapat-rapat. Antara benci, muak dan jijik. Lelaki. Semuanya iblis bertanduk, sama seperti bapakku.
Prang! Gelas yang kupegang terjatuh dan pecah tak jauh dariku. Hancur. Berantakan. Dan itulah aku sekarang.
“Dari mana aja, Nak? Sejak semalam Ibu cari-cari kamu,” berkata ibuku yang bergegas mau pergi kerja lagi. Ibuku biasa menyelang dulu pulang untuk memasak. Ia berhenti tepat di depanku.
“Ada apa? Kenapa pucat begini? Sakit ya?” tanyanya bertubi-tubi. Aku melangkah mundur. Menjauh, merasa tidak pantas berada di dekatnya.
“Mana dia?” hanya itu yang diucapkan oleh bibirku yang kering. Aku bahkan tidak berani menatap wajahnya. Ibuku diam. Aku sadar ada memar baru di wajah perempuan malang itu.
“Gaji ibu diambil lagi?” tanyaku pula. Ibu hanya mengangguk perlahan. Aku menggeleng marah. Ini harus dihentikan!
Aku berlari ke arah pasar. Ibuku berusaha mengejarku. “Jangan, Tet! Jangan berurusan dengan bapakmu!” tangisnya tumpah dan tangannya menarikku. Aku memandangi wajah tirus pucatnya yang selalu terlihat lelah.
“Dengar, Ibu. Aku janji, hidup kita akan lebih baik mulai sekarang! Aku janji, setan itu akan pergi!” Aku melepaskan tangan ibuku dan bergerak terus.
Ya, lelaki itu di sana. Di tempat dan di saat yang salah. Aku mendekatinya perlahan. Memasukkan sesuatu ke dalam celananya diam-diam, dan secepatnya menjauh. Inilah  saatnya. Aku menarik napas panjang.
“Maling! Ada Maling!” teriakku histeris sambil menunjuk-nunjuk lelaki bertanduk iblis itu.
Orang-orang serentak menghambur ke arahnya, kemudian menghajarnya ramai-ramai. Aku menatapnya dari kejauhan. Ratapan memohon ampunnya terdengar sangat merdu di telingaku. Entah mengapa aku bisa menikmatnya. Kubiarkan semuanya tengelam ke dalam diriku, pikiranku, sebagaimana selama ini lelaki itu menenggelamkanku dan ibuku ke lautan derita.
Dari arah berseberangan seseorang membawa obor dan dirigen minyak tanah sambil berteriak, “Bakar saja maling sialan ini!”
Aku seperti dapat merasakan tubuh lelaki itu gemetar ketakutan. Dan saat matanya bersirobok dengan mataku, ia menudingku dan berteriak histeris.
“Butet! Tolong Bapak! Aku bukan maling, oh, itu anakku!”
Untuk sesaat semua mata memandangku menunggu jawabanku. Aku teringat kembali akan kenangan masa kecil. Kala dia menggendongku di atas bahunya sambil bernyanyi-nyanyi. Kala ia mendongengiku sebelum tidur di bawah cempor. Dan senyum bangganya ketika aku bercerita tentang sekolah pertamaku. Semuanya hanya bisa terjadi sebelum setan judi mengangakangi seluruh jiwa raganya!
“Benar ini bapak kamu?” tanya seseorang.
Aku tersenyum samar dan kulihat ayahku membalas dengan helaan napas lega.
“Bukan, “ ujarku sambil menggeleng dan berbalik.
Kubiarkan semuanya berlangsung, dan aku hanya mengawasi dari kejauhan. Ya, lelaki iblis itu sudah tenggelam dalam api dan dosanya sendiri. Perlahan senyum di bibirku kian mengembang. Ah, pemandangan yang sangat kunantikan. Untuk sesaat aku tersadar, tanduk iblisnya menghilang seiring dengan desahan napasnya yang terakhir.
Seketika bulu romaku meremang hebat, dan tubuhku mengejang kaku. Tanduknya kini ia wariskan kepadaku.  (Revisi Kampus Perjuangan, 2011)

@@@